Pendidikan Islam dan Multikultural

Sejarah Pendidikan Islam
Sejarah khasanah pemikiran pendidikan Islam merupakan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam dari waktu ke waktu. Mulai lahirnya Islam sampai sekarang. Banyak diketahui bahwa Islam hadir ke Indonesia dibawa oleh pedagang, bukan para tentara atau teroris. Bila dilacak akar sejarahnya, proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Is-lam tersebut melalui bermacam-macam cara dan media. Misalnya, hubungan perdagangan atau jual beli, kontak perkawinan dan media dakwah secara langsung, baik individu maupun kolektif . Singkat kisah, kehadiran islam di negeri ini benar-benar ikut member sumbangan be-sar bagi terwujudnya kemerdekaan bangsa ini dari segala belenggu kebodohan dan memberi warna tersendiri bagi kemajuan bangsa ini. Sumbangsih Islam dalam perjuangan kemerdekaan juga dibuktikan ketika perlawanan rakyat dan kaum santri melawan penjajah asing .
Arti Pendidikan
Setelah kita mengetahui tentang sejarah singkat pendidikan Islam di Indonesia marilah kita pahami istilah ilmu pendidikan (paedaggiek) dan penddikan (paedagogie). Dua istilah ini memiliki makna yang berlainan. Ilmu pendidikan lebih menitik beratkan pada pemikiran pendidikannya. Tentang bagaimana sistem, tujuan, materi, sarana pendidikannya dan sebagainya. Sedangkan pendidikan lebih menekankan dalam hal praktek, yaitu menyangkut kegiatan belajar mengajar.
a) Pengertian pendidikan secara etimologi
Paedagogie berasal dari bahasa Yunani yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak.
b) Pengertian pendidikan menurut beberapa tokoh
I. SA. Branata dkk.
Pendidikan yaitu usaha yang sengaja diadakan baik langsung atau tidak langsung untuk membantu anak dalam proses perkembangannya mencapai kedewasaannya.
II. Langeveld
Pendidikan adalah usaha membimbing anak supaya menjadi dewasa yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja antara orang dewasa dengan anak.

III. Ki Hajar Dewantara
Mendidik yaitu usaha menuntun anak agar sebagai manusia dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
IV. Garis Besar Haluan Negara(GBHN)
Pada hakikatnya pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Jadi ,dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu tuntunan, pengaruh, ban-tuan, dan usaha dalam memberikan suatu pengajaran pada anak didik, agar lebih berkembang dalam mencapai tingkat kedewasaannya dalam menggapai kehidupan yang diidamkan.
Memahami Pendidikan Multikultural
Secara etimologi istilah pendidikan multicultural dari dua term, yaitu pendidikan dan multikultural. Pendidikan berarti proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan melalui pengajaran, pelatihan, proses dan cara men-didik. Multicultural diartikan sebagai keragaman kebudayaan, aneka kesopanan. Sedangkan secara terminologi, pendidikan multikultural berarti proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran(agama). Pengertian seperti ini mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan, karena pendidikan dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan multikultural menghendaki penghor-matan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia.
Dalam konteks kehidupan yang multikultural, pemahaman yang berdimensi multikul-tural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran keagamaan manusia yang selama ini masih mempertahankan “egoisme” keagamaan dan kebudayaan. Haviland mengatakan bahwa multikultural dapat diartikan pula sebagai pluralitas kebudayaan dan agama. Dengan demikian, jika kebudayaan itu sudah plural, maka manusia dituntut untuk memelihara plurali-tas agar terjadi kehidupan yang ramah dan penuh perdamaian . Akar kata yang dapat digunakan untuk memahami adalah kata “kultur”.Menurut catatan M. Ainul Yaqin, ada cukup banyak ilmuwan dunia yang yang memberikan definisi kultur.antara lain:
Elizabeth B. Taylor(1832-1917) dan L.H. Morgan(1818-1881) mengartikan bahwa “kultur adalah sebuah budaya yang universal bagi manusia dalam berbagai macam tingkatan yang dianut oleh seluruh anggota masyarakat.”
Franz Boas (1858-1942) dan A.L Kroeber (1876-1960) menjelaskan bahwa “kultur adalah hasil dari sebuah sejarah-sejarah khusus umat manusia yang melewatinya secara be-sama-sama.di dalam kelompoknya” .
Multikulturalisme sebenarnya merupakan konsep dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui keberagaman, perbedaan, dan kemajemukan budaya, baik ras, suku, tenis, dan agama.Sebuah konsep yang memberikan pemahaman kita bahwa sebuah bangsa yang plural atau majemuk adalah bangsa yang dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam(multikultur). Bangsa yang multikultur adalah bangsa yang kelompok-kelompok etnik atau budaya yang ada dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence yang di tandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain. Sikap saling menerima, menghargai nilai, budaya, keyakinan yang berbeda tidak otomatis akan berkem-bang sendiri. Apalagi karena dalam diri seseorang ada kecenderungan untuk mengharapkan orang lain menjadi dirinya. Sikap saling menerima dan menghargai akan cepat berkembang bila dilatihkan dan dididikkan pada generasi muda dalam sistem pendidikan nasional. Dengan pendidikan, sikap penghargaan terhadap perbedaan yang direncana baik, generasi muda di-latih dan didasarkan akan pentingnya penghargaan pada orang lain dan budaya lain bahkan melihatnya dalam hidup sehingga sewaktu mereka dewasa sudah mempunyai sikap itu .
Memahami Pendidikan Islam
Dalam Islam, pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik seoptimal mungkin, baik yang menyangkut aspek jasmani-rohani, akal-akhlak maupun intelektual-spiritual. Dengan optimalisasi seluruh potensi tersebut, pendidikan Islam berupaya mengantarkan peserta didik ke arah kedewasaan pribadi sebagai manusia yang beriman dan berilmu. Semua itu saling berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan dan terciptanya kemaslahatan bagi seluruh umat manusia dan alam semesta. Pendidikan islam pada hakikatnya adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinu dan berkesinambungan. Dalam hal ini, tugas dan fungsi yang diemban pendidikan pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan dijalankan sepanjang hayat (long life education) .
M. Yusuf Qardhawi memberikan pengertian bahwa “pendidikan Islam adalah pen-didikan manusia seutuhnya, akal, dan hatinya ,rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampi-lannya karena itu pendidikan islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala ke-baikan dan kejahatan, manis dan pahit.”
Selanjutnya Azyumardi Azra menjelaskan tentang pengertian pendidikan islam pene-kanannya pada bimbingan, bukan pada pengajaran. Yang berdasarkan penegasan ini dapat dipahami ilmu pendidikan islam, adalah :
1. “Ilmu pengetahuan praktis karena ilmu ini dilaksanakan dalam kegiatan pen-didikan dan bertujuan untuk dapat mengetahui ajaran Islam dan mengamal-kannya.
2. “Ilmu pengetahuan normatif karena ilmu ini berdasarkan pada ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan al-Sunnah dan mengarahkan pada manusia untuk hidup sesuai dengan ajaran Islam dan memiliki harkat dan budaya yang tinggi.”
“Ilmu pengetahuan empiris karena obyek dan situasi pendidikannya berada dalam pergaulan manusia yang ada dalam dunia pengalaman.”

Menggas Pendidikan Islam Multikultural
Istilah “Pendidikan Multikultural” dapat di gunakan baik pada tingkat deskriptif dan normatif, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat multikultural. Lebih jauh ia juga mencakup pengertian tentang pertim-bangan terhadap kebijakan-kebiajakan dan strategi-strategi pendidikan dalam masyarakat multikultural. Dalam konteks deskriptif ini, kurikulum pendidikan multikultural mestilah mencakup subjek-subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan,bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, dan lain sebagainya. Kesadaran multikulturalitas masyarakat kita yang terdiri banyak suku dan beberapa agama, maka, pencarian bentuk pen-didikan yang berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkannya kepada generasi berikutnya, menumbuhkan tata nilai, memupuk pershabatan antara siswa yang bera-neka ragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami, serta mengerjakan keterbukaan dan dialog. Bentuk pendidikan seperti inilah mungkin diharapkan oleh “banyak pihak” dalam rangka untuk mengantisipasi konflik social-keagamaan menuju perdamaian .
Untuk memperkuat pandangan tentang toleransi agama dalam wilayah teologis ini, masjid menjelaskan bahwa ibadah kepada Tuhan harus berarti pencarian kebenaran yang lebih suci dan murni. Kebenaran yang suci dan murni ini adalah apa yang dimaksud dalam Al-Qur’an sebagai hanif, suatu sifat alamuah manusia yang berpihak pada kebenaran dengan ke-baikan sebagai kelanjutan dari fitrah yang bersifat suci, sebagaimana dinyatakan QS. 30:30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); dan (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah agama yang lurus); tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.
Metode Pendekatan Pendidikan Islam
Selain kurikulum dan materinya, metode dan pendekatan dalam praktik proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam juga perlu diperhatikan. Beberapa metode dan pendekatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut, meliputi:
1. Pendekatan Keimanan
Memberi peluang kepada peserta didik dengan mengembangkan pemahaman adanya Tuhan yang sebagai sumber kehidupan makhluk sejagat.
2. Pendekatan Pengalaman
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah kehidupan.
3. Pendekatan Pembiasaan
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan perilaku baik yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah bangsa.
4. Pendekan Rasional
Usaha memberikan peran pada rasio peserta didk dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang baik dan perilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi.
5. Pendekatan Emosional
Upaya mengunggah perasaan peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
6. Pendekatan Fungsional
Menyajikan semua bentuk standar materi dari segi manfaatnya bagi peserta didik da-lam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
7. Pendekatan Keteladanan
Menjadikan figur guru agama dan non agama serta petugas sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik sebagai cermin manusia berkepribadian agama .
Kesadaran multikulturalitas masyarakat kita yang terdiri dari banyak suku dan agama,dengan begitu bentuk pendidikan alternatif harus diperlukan.Yaitu suatu bentuk pen-didikan yang berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkannya kegen-erasi selanjutnya, menumbuhkan tatanan nilai, memupuk persahabatan, antar suku, ras, dan agama, serta mengerjakan keterbukaan.Bentuk pendidikan seperti inilah yang di harapkan banyak pihak dalam rangka untuk mengantisipasi konflik sosial-keagamaan menuju per-damaian. Model pendidikan seperti ini biasa dikenal sebagai pendidikan Islam berbasis mul-tikultural .

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Uhbiyati, Nur ,1991. Ilmu Pendidikan,Jakarta:PT Rineka Cipta.
Erlan, Muliadi, Juni 2012. ”Urgensi Pembelajaran Pendidikan Islam Berbasis Multikultural di Sekolah”, Jurnal Pendidikan Islam.Volume 1, No. 1 http//muhfaturrohman.worpress.com/2012/10/04/pendidikan-islam-multikultural/ 9 Januari 2016
Ibrahim R. (2008). Pendidikan Multikultural: “Upaya Meminimalisir Konflik dalam Era Plu-ralitas Agama”. El Tarbawi, 1(1). http://www.jurnal.uii.ac.id/index.php/Tarbawi/article/view/192, 2008.
Mahfud, Choirul, 2013, Pendidikan Multikultural.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Maksum, Ali, 2011.Pluralisme dan Multikulturalisme Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia, Malang: Aditya Media Publishing.
Naim, Ngainun, Syauqi, Ahmad, 2010, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, Yo-gyakarta: Ar-Ruzz Media.
Nata, Abuddin , 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam.Bandung: Angkasa.
Sulalah, 2012. Pendidikan Multikultural didaktika Nilai-Nilai Universalitas Kebangsaan. Malang: UIN-Maliki Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s